Tentang Bahar Buasan

Bahar Buasan : “Setiap langkah kecil bisa Bawa Harapan besar bagi banyak orang”


Bawa Harapan dari Tanah Kepulauan

Bahar Buasan lahir di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, pada 25 Maret 1964, dan tumbuh besar di lingkungan pesisir. Di tengah masyarakat yang menghidupi nilai gotong royong, kerja keras, dan daya tahan terhadap tantangan alam, Bahar belajar bahwa harapan bukan soal kata-kata besar, melainkan tumbuh dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.​

Pengalaman hidup di tengah keluarga dan masyarakat membentuk keyakinan yang ia pegang teguh: setiap langkah harus membawa manfaat nyata bagi sesama. Bagi Bahar Buasan, keputusan apa pun yang diambil sejatinya harus hadir untuk membawa harapan, sekecil apa pun itu, yang nyata dirasakan oleh orang lain.


Perjalanan Belajar & Cara Pandang

Perjalanannya menempuh pendidikan S1 Hukum dan S1 Teknik di Universitas Sriwijaya, lalu melanjutkan studi Magister Sains Manajemen (M.S.M.) dan Master of Science (M.Sc.), membentuk cara pandang Bahar Buasan dalam melihat persoalan masyarakat dari berbagai sisi, regulasi, pembangunan, ekonomi rakyat, hingga lingkungan. Baginya, ilmu bukan sekadar capaian, tetapi alat untuk menguatkan manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.


Perjalanan Pengabdian Lebih dari 10 Tahun

  • Aktif sejak sebelum menjabat, Bahar Buasan mulai dari organisasi kepemudaan, komunitas adat, dan kegiatan sosial di berbagai desa dan kampung di Bangka Belitung.
  • Menghadapi langsung persoalan masyarakat, mulai dari pendidikan, lapangan kerja, akses layanan dasar, hingga isu lingkungan dan ketahanan ekonomi keluarga.
  • Pengalaman akar rumput menjadi fondasi pengabdian ketika kemudian mendapat amanah sebagai anggota DPD RI di beberapa periode (2009 hingga 2014, 2014 hingga 2019, 2024 hingga 2029)
  • Fokus pada isu-isu kepulauan, seperti pendidikan di pulau kecil, akses air bersih, layanan kesehatan terjangkau, pelestarian lingkungan maritim, dan penguatan ekonomi lokal.

Namun yang paling penting adalah: bahkan setelah lebih dari satu dekade mengabdi, ia tetap memilih untuk hadir di tengah masyarakat, bukan hanya dalam ruang rapat. Pengabdiannya bersifat berlapis: formal di lembaga negara, dan informal bersama komunitas yang selama ini ia dampingi (seperti Yayasan Bangka Jaya Lestari, Rumah Inspirasi Buasan, dan Yayasan Gunung Mangkol Lestari).


Filosofi Kepemimpinan “Bawa Harapan”

Di setiap kesempatan, ia selalu membawa semangat yang sama: membantu, mendengar, dan memberikan harapan. Baginya, kepemimpinan bukan tentang jabatan, tetapi tentang bagaimana kehadiran seseorang dapat membawa perubahan yang berarti. Dari situlah lahir prinsip yang menjadi jati dirinya: Bawa Harapan.