Bahar melihat pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, tetapi fondasi kemandirian masyarakat Bangka Belitung. Karena itu, ia aktif melakukan pembinaan langsung kepada petani: memberikan pelatihan, pendampingan cara tanam, hingga teknik peningkatan kualitas hasil panen. Pendekatannya sederhana—turun ke kebun, mendengar tantangan petani, lalu membantu menemukan solusi yang bisa diterapkan dengan sumber daya yang ada.

Dalam berbagai kegiatan reses dan pertemuan warga, Bahar memperkenalkan strategi ekonomi “3+2”, yang menempatkan pertanian dan perkebunan sebagai sektor utama pemulihan ekonomi daerah. Bagi Bahar, kedaulatan pangan adalah kedaulatan daerah, dan petani harus diperlakukan sebagai mitra pembangunan, bukan objek kebijakan.

