JAKARTA — Anggota DPD RI asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dr. Bahar Buasan, S.T., M.S.M., M.Sc., resmi meraih gelar Doktor Ilmu Kepolisian setelah dinyatakan lulus dalam Sidang Terbuka Program Doktor Ilmu Kepolisian di STIK-PTIK, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Dalam sidang tersebut, Bahar mempertahankan disertasi berjudul “Kolaborasi Kepolisian dan Pemerintah Daerah dalam Pemberdayaan UMKM untuk Penguatan Keamanan Daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”. Penelitian tersebut menyoroti keterkaitan antara kondisi ekonomi masyarakat dan stabilitas keamanan daerah.

Berangkat dari kondisi melemahnya sektor pertambangan timah di Bangka Belitung, Bahar melihat bahwa meningkatnya jumlah UMKM belum sepenuhnya diikuti dengan penguatan kesejahteraan dan penurunan kerawanan sosial. Karena itu, ia menawarkan pendekatan keamanan yang tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Melalui pendekatan kualitatif dan analisis tematik, Bahar memperkenalkan konsep Model Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (BBM), yang mendorong kolaborasi antara Bhabinkamtibmas, pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan komunitas masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial.

Menurut Bahar, keamanan daerah perlu dibangun melalui pendekatan preventif yang menyentuh akar persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.

bahar buasan raih gelar doktor

sumber foto : majalahparlemen.com

“Ketika ekonomi masyarakat melemah, ruang kerawanan sosial akan terbuka. Karena itu, penguatan UMKM harus menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan daerah,” ujar Bahar usai sidang terbuka.

Ia juga menekankan bahwa modal sosial masyarakat Bangka Belitung menjadi fondasi penting dalam membangun keamanan daerah, sebagaimana tercermin dalam falsafah lokal “fan ngin, thong ngin jit jong” yang menggambarkan semangat persatuan, gotong royong, dan solidaritas sosial masyarakat Babel. Nilai budaya tersebut dinilai menjadi kekuatan dalam memperkuat kolaborasi antara masyarakat, UMKM, pemerintah daerah, dan aparat keamanan dalam menjaga stabilitas sosial serta ketahanan daerah secara berkelanjutan.

Gagasan tersebut juga sejalan dengan pemikiran yang ia tuangkan dalam buku Dari Dapur Rakyat Menuju Green Ekonomi yang ditulis bersama Dr. Sofian Lusa, S.E., M.Kom. Dalam buku itu, keduanya menekankan bahwa pembangunan ekonomi nasional harus dimulai dari penguatan ekonomi rakyat, khususnya UMKM, usaha keluarga, pertanian, dan sektor berbasis komunitas.

Buku tersebut membahas bagaimana transformasi menuju ekonomi hijau tidak dapat hanya bertumpu pada industri besar, tetapi juga harus melibatkan masyarakat akar rumput melalui ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis kesejahteraan.

Menurut Bahar, Indonesia memiliki potensi besar untuk membangun model pembangunan yang mampu menghubungkan pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan stabilitas sosial secara bersamaan.

Ia berharap hasil disertasinya tidak berhenti pada ruang akademik, melainkan dapat menjadi rujukan kebijakan bagi daerah daerah lain dalam membangun keamanan sosial berbasis pemberdayaan masyarakat