Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Bahar Buasan (lahir 25 Maret 1964, Pangkalpinang, Bangka Belitung), seorang Anggota DPD RI dari Kepulauan Bangka Belitung yang telah menjabat tiga periode (2009–2014, 2014–2019, dan 2024–2029). Ia tumbuh dari keluarga petani sederhana dan pernah menjalani berbagai profesi — dari pedagang sayur keliling, pekerja bangunan, karyawan (termasuk 10 tahun di PT Delami Garment Industry), pengusaha, hingga senator.
Perjalanan hidupnya dibentuk oleh empat prinsip yang berakar dari pesan neneknya:
Prinsip 1 — Kegigihan. Sejak kecil ia membagi waktu antara sekolah dan membantu keluarga bertani. Di Bandung, ia kuliah Teknik Sipil di STTM sambil bekerja sebagai pembantu tukang bangunan. Kini ia memiliki beberapa perusahaan di bidang konstruksi, travel, dan kuliner (merek “Oma Atjit”).
Prinsip 2 — Pendidikan adalah nomor satu. Terinspirasi pesan nenek “Kita boleh miskin, tetapi kita harus sekolah,” ia menempuh dua gelar magister sekaligus (UI dan UGM) saat menjabat sebagai anggota DPD RI, serta mengikuti program Lemhannas yang membawanya ke FBI, RAND Institute, dan Pentagon.
Prinsip 3 — Tak kubiarkan nasiku berceceran. Filosofi untuk tidak menyia-nyiakan peluang. Ia menerapkannya dengan mengambil dua program magister bersamaan dan mendiversifikasi usaha. Setelah tidak menjabat (2019–2024), ia kembali ke Bangka mengembangkan pertanian warisan keluarga dan menjabat Wakil Ketua KADIN Bangka Belitung bidang Agribisnis, memperkenalkan konsep “ekonomi 3+2” (pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, pariwisata).
Prinsip 4 — Aku memberi apa yang kumiliki dan kusayangi. Diwujudkan melalui donor darah rutin (lebih dari 88 kali) dan program “BBM” (Belajar Bersama Masyarakat) untuk berbagi pengetahuan dengan generasi muda.
Pesan utama buku ini terangkum dalam moto hidupnya: “Boleh Terhambat, Jangan Harap Aku Berhenti”.

cover Biografi Bahar Buasan