Bahar Buasan tak ragu menyebut dirinya petani. Di Kabupaten Bangka Tengah, ia mengelola lahan warisan keluarga yang dulu didominasi kelapa, lalu dikembangkan menjadi kebun campuran, jeruk, durian, dan komoditas lokal lain, dengan tujuan sederhana: meningkatkan kualitas hasil pertanian dan menguatkan ekonomi warga sekitar. Di sana pula lahir gagasan Rumah Kebun BBM (Bahar Buasan Melayani) sebagai ruang edukasi dan motivasi membangun desa dari akar rumput.

Kebun ini bukan hanya tempat produksi; ia dimaknai sebagai sekolah terbuka: tempat bertemu petani, pemuda, guru sukarela, dan komunitas lokal untuk belajar cara tanam yang lebih baik, merawat tanah–air, dan membaca peluang pasar komoditas Babel. Kehadiran tokoh dan institusi yang berkunjung ke kebun, mulai dari komunitas hingga aparat daerah, ikut memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis desa.
Selaras dengan gagasan “3+2” yang ia suarakan, pertanian & perkebunan, perikanan & kelautan, pariwisata; ditopang jasa dan hilirisasi, Kebun Bahar menjadi contoh kecil bagaimana pertanian rakyat bisa terhubung dengan edukasi, pariwisata desa, dan rantai nilai lokal.

